Senin, 18 Januari 2016

MAKALAH PERANAN DAN PENGARUH EKONOMI MONETER



PERANAN DAN PENGARUH EKONOMI MONETER YANG TERJADI DI KAWASAN ASIA TENGGARA DAN EROPA
DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULYAH
“EKONOMI MONETER”




DI SUSUN OLEH            :  MUHAMMAD FIRDAUS IMRAN
                                             LENI MARLINA
PROGRAM STUDY        :  EKONOMI SYARI’AH



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL WATHAN SAMAWA
SUMBAWA BESAR
2016


KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah dan rahmat-Nya jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, yang mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak ternilai dari semua pihak yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu dorongan yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun bahan materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian materinya maupun dari segi bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan makalah ini.






Sumbawa Besar, Oktober  2015


Penulis






DAFTAR ISI
Kata pengantar ..................................................................................        i
Daftar isi ............................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................        1
1.1 Latar belakang masalah ......................................................        2
1.2 Rumusan masalah ...............................................................        3
1.3 Tujuan ................................................................................        4
1.4 Manfaat ..............................................................................        5
BAB II PEMBAHASAN .................................................................        6
2.1  Pengertian Krisis Moneter...................................................        7
2.2  Latar Belakang Terjadinya Krisis Moneter di Indonesia....        8
2.3 Krisis Ekonomi Eropa.........................................................        9
2.4  Penyebab Terjadi Krisis Ekonomi Eropa...........................        10
BAB III PENUTUP ..........................................................................        11
3.1 Kesimpulan ........................................................................        12
3.2 Daftar pustaka ....................................................................        13




BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Krisis ekonomi atau yang sering disebut dengan nama krisis moneter merupakan suatu peristiwa atau kondisi menurunya ekonomi suatu Negara. Semua  Negara praktis pernah mengalami yang namanya krisis dalam perekonomian negaranya. Karena krisis merupakan kejadian yang simultan dan memiliki effek yang akan menyebar keberbagai Negara. Banyak yang menyebutkan bahwa Krisis moneter merupakan hasil dari ekonomi kapitalis yang sepenuhnya bergantung  pada sistem pasar yang ada. Akibatnya pasar tidak terkendali dan mengakibatkan terjadinya krisis.
Sebagian besar negara-negara di dunia pernah mengalami krisis ekonomi,  bahkan AS juga pernah mengalaminya. Indonesia pun tidak dapat mengelak dari  permasalah tersebut, dimana Indonesia dilanda oleh suatu krisis ekonomi yang diawali dari krisis nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada pertengahan tahun 1997. Kecenderungan melemahnya rupiah semakin menjadi ketika terjadi  penembakan mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998 dan aksi penjarahan  pada tanggal 14 Mei 1998.
Sejak berdirirnya orde baru tahun 1966-1998, terjadi krisis rupiah pada  pertengahan tahun 1997 yang berkembang menjadi suatu krisis ekonomi yang  besar. Krisis pada tahun ini jauh lebih parah dan kompleks dibandingkan dengan krisis-krisis sebelumnya yang pernah dialami oleh Indonesia. Hal ini terbukti dengan mundurnya Soeharto sebagai presiden, kerusuhan Mei 1998, hancurnya sektor perbankan dan indikator-indikator lainnya, baik ekonomi, sosial, maupun  politik. Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab suatu krisis moneter yang  berubah menjadi krisis ekonomi yang besar, yakni terjadinya depresiasi nilai tukarrupiah terhadap dolar AS lebih dari 200% dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Oleh karen itu, dalam makalah ini akan diuraikan mengenai penyebab- penyebab terjadinya krisis ekonomi Indonesia, dampak yang ditimbulkannya bagi  perekonmian domestik, serta kebijakan atau upaya penanggulangannya.
1.2 Rumusan Masalah
1.    Definisi Krisis Moneter
2.    Penyebab Krisis Moneter
3.    Krisis Ekonomi Eropa
1.3    Tujuan
2.    Memahami Krisis Moneter.
3.    Mempelajari macam-macam bentuk Krisis Moneter.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi Krisis Moneter
     Krisis moneter adalah krisis yang berhubungan dengan keuangan atau perekonomian suatu negara, ditandai dengan anjloknya perekonomian suatu negara yang disebabkan oleh hancurnya sistem pemerintahan.
B.       Latar Belakang Terjadinya Krisis Moneter di Indonesia
Krisis pertama yang dialami Indonesia pada Orde Baru adalah kondisi ekonomi yang sangat parah . Selama periode 1962-1966 telah membawa Indonesia dalam kesulitan ekonomi yang sangat berat. Inflasi mencapai 650%. Korupsi merajalela. Barang pokok sehari-hari mengalami kelangkaan dimana-mana. Kondisi buruk tersebut diperparah dengan krisis politik yang akhirnya memuncak pada Tragedi Nasional dengan korban jiwa banyak orang pada tanggal 30 September 1965.
Melalui usaha keras disertai bantuan negara-negara donor, Indonesia akhirnya berhasil bangkit kembali.  Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, bahkan disebut sebagai negara Asia berkinerja tinggi oleh bank dunia. Namun dibalik itu semua, salah satu ciri dari perekonomian Indonesia adalah “Lebih Besar Pasak Daripada Tiang”. Julukan tersebut menggambarkan bahwa bangsa Indonesia terlalu boros, sehingga pengeluaran atau pembelajaan negara lebih besar daripada pendapatan, dan lebih banyak membeli dari luar negeri daripada menjual barang keluar negri. Hal ini mengakibatkan ketergantungan dana pada luar negri semakin melambung.
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama ini, yang selalu dijadikan suatu alasan oleh pemerintah untuk mengatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat kokoh, membuat banyak perusahaan swasta yang juga meminjam uang keluar negri yang tidak dilandasi oleh kelayakan ekonomi.  Suku bunga diluar negri yang lebih murah, serta kepercayaan bahwa pemerintah akan menjaga stabilitas kurs rupiah, menyebabkan utang luar negri menjadi sumber dana yang menarik, murah, dan tak banyak mengandung resiko kurs. Ketika perusahaan swasta beramai-ramai mencari pinjaman luar negri, pada saat yang sama bank-bank luar negri berlomba mencari bisnis di Indonesia. Sebab bagi mereka, Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta merupakan lahan bisnis yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Dan bank-bank ini tak melihat beberapa kelemahan dan resiko yang memang tersembunyikan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Sehingga memasuki tahun 1990-an, pemerintah Orde Baru mulai menampakan kekurangan-kekurangannya yang mendapat kritik tajam, karena pemerintah yang terlalu sentralis, serta munculnya korupsi, kolusi (Kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar.) dan nepotisme (Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti "keponakan" atau "cucu".  Jadi Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya atau bisa juga disebut sebagai pilikasih) secara signifikan. Tetapi, semua kritik tersebut tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintahan saat itu. Sementara dalam pembangunan perekonomian di Indonesia, tampak pertumbuhan yang sangat pesat. Bahkan dalam laporan tahunan tahun 1997, bank dunia masih meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tingkat rata-rata 7,8 persen.
Pada pertengahan 1997, kawasan Asia terkena krisis finansial, dipicu dengan menurunnya mata uang Thailand baht terhadap dollar AS pada 2 Juli 1997, dari 24,7 baht menjadi 29,1 baht per dollar AS.
Krisis penurunan nilai mata uang baht diikuti negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya, seperti Filiphina, Malaysia, Indonesia, dan Korea Selatan. Negara-negara ini di perkirakan memiliki struktur perekonomian tidak jauh berbeda dengan Thailand. Krisis memicu pelarian modal asing dari negara-negara tersebut, membuat sistem perbankan di negara-negara tersebut ambruk satu demi satu. Ketika krisis melanda Thailand, nilai baht terhadap dollar anjlok dan menyebabkan nilai dollar menguat. Penguatan nilai tukar dollar berimbas ke rupiah.
Di Indonesia, tanda-tanda adanya krisis terjadi pada minggu kedua Juli 1997, ketika kurs rupiah merosot dari Rp. 2.432 per dollar AS menjadi sekitar Rp. 3.000 per dollar AS. Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Padahal pada saat itu hutang luar negri Indonesia, baik swasta maupun pemerintah sudah sangat besar. Tatanan perbankan nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis. Bank Indonesia berusaha membuat sejumlah kebijakan dengan  melebarkan rentang kendali rupiah, namun krisis moneter yang diikuti dengan semakin menipisnya tingkat kepercayaan, membuat nilai rupiah semakin sulit dikontrol.
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak awal Juli 1997, di akhir tahun itu telah berubah menjadi krisis ekonomi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, menyebabkan harga-harga naik drastis. Banyak perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik yang melakukan PHK secara besar-besaran. Jumlah pengangguran meningkat dan bahan-bahan sembako semakin langka. Krisis ini tetap terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia dimasa lalu dipandang cukup kuat dan di sanjung-sanjung oleh bank dunia.

*        faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya krisis moneter di Indonesia antara lain:
1.        Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umunya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi bagi ketidakstabilan di Indonesia. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri mengahadapi besarnya persyaratan hutang swasta tersebut.
                          Pemerintah selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola hutang pemerintah (atau hutang publik lainnya), dan senantiasa menjaganya dalam batas-batas yang dapat tertangani. Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar-benar menjadi masalah serius. Antara tahun 1992-1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (bank dunia, 1998). Hal ini mirip dengan yang terjadi di negara-negara lain di Asia yang dilanda krisis.
2.        Banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri.
Ketika liberalisasi sistem perbankan diberlakukan pada pertengahan tahun 1980, mekanisme pengendalian dan pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak mampu mengikuti cepatnya pertumbuhan sektor perbankan. Yang lebih parah, hampir tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran kriteria layak kredit. Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank yang sesungguhnya tidak bermodal cukup, namun tetap dibiarkan beroprasi. Semua ini menyebabkan ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai peredam kerusakan, tetapi menjadi korban langsung akibat neraca yang tidak sehat.
3.        Sejalan dengan semakin tidak jelasnya perubahan politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi persoalan ekonomi pula.
4.        Hilangnya kepercayaan dunia maupun masyarakat Indonesia sendiri terhadap perkembangan ekonomi Indonesia, sehingga menghambat laju gerak pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan Indonesia mengalami krisis yang berkepanjangan.
*        Krisis Ekonomi Eropa 2011
Krisis Eropa juga dapat dikatakan sebagai krisis euro akhirnya terangkat dipermukaan sebagai isu yang panas, settelah stimulus krisis Yunani berhasil menarik banyak perhatian dunia internasional. Bagaimana tidak, jika ternyata rentetan negara tak mau ketinggalan mencuat dengan kabar adanya krisis yang terlihat dari bagaimana mereka mencari dana pinjaman baik dari negara lain , seperti Italia dan Spanyol, ditambah indikasi krisis yang diperkirakan dialami oleh Portugis, dan Irlandia. Setelah Yunani, Italia tergolong negara yang krisisnya begitu disorot dunia internasional, terlebih dengan adanya “skandal” kegagalan Berlusconi yang menyebabkan keterpurukan ekonomi namun sempat teguh menolak untuk mengundurkan diri. Kegagalan mengentaskan Yunani dari krisis akan menyeret negara Uni Eropa lain ke dalam krisis yang makin dalam, yang ternyata tidak hanya disebabkan oleh persamaan mata uang. Uni Eropa, yang konon kini menyisakan tiga negara kuat; yaitu Belanda, Perancis, dan Jerman telah berupaya memberikan dana talangan, baik teratasnamakan negara dan juga teratasnamakan komisi Uni Eropa. Menurut penulis, hal ini menggambarkan kesadaran para negara anggota zona Euro, bahwa perluasan krisis akan sangat mungkin berlanjut dan akan sangat merugikan.
Pada dasarnya, sistem mata uang tunggal seakan menjadi pisau bermata dua, dalam artian di satu sisi begitu menguntungkan dan menambah bagaining position negara Eropa, namun di saat yang bersamaan penulis menilai ke-tunggal-an mata uang ini penuh dengan celah yang berpotensi merugikan. Salah satunya perihal tingkat adaptasi negara, tidak semua negara memiliki perekonomian yang cukup matang untuk zona euro.  Misalnya saja Yunani, sejak masuk Uni Eropa di tahun 1980, dan masuk pula di zona euro, dalam satu dekade pertama harapan penguatan ekonomi sama sekali tidak tercapai, yang terjadi justru penurunan tingkat Gross National Product (GNP) Yunani dari 58% menjadi 52%.
Adanya sistem mata uang tunggal membuat negara-negara lain di Uni Eropa menjadi rentan akan satu goncangan di satu pilar euro yang ada. Dampak signifikan secara langsung akan dirasakan oleh negara-negara anggota-anggota eurozone.  Harus dipahami disini bahwa definisi zona eropa adalah kesepakatan beberapa negara, bahkan yang diluar Uni Eropa yang sama-sama menggunakan mata uang euro, dan juga adapula negara Uni Eropa yang ternyata tidak bergabung dalam zona euro, seperti United Kingdom dan Denmark. Penggunaan term      “negara dalam zona euro” kini dapat disepakati mengarah pada negara-negara pengguna euro. Adanya eurozoneyang awalnya sangat menguntungkan kini menjadi momok paling mengerikan sebab hal ini justru membuat upaya mempertahankan krisis di wilayah internal negara menjadi upaya yang sia-sia bahkan nyaris mustahil.
*        Penyebab Krisis Ekonomi Eropa 2011
            Melihat secara umum bentuk persoalan krisis yang di hadapi Eropa tersebut, dapat dikelompokan menjadi 4 dilema besar yang mengakibatkan kondisi perekonomian Eropa menjadi carut-marut:
       Debitur vs kreditor
Eropa dihadapkan dengan menggemuknya utang pemerintahdan swasta yang banyak diantaranya yang tidak membayar dan menjadi ancaman ketika bertabrakan pada persoalan seberapa besar utang yang akan di write off dan siapa yang akan bertanggung jawab atas itu. Serta jika kredit macet di hapus, artinya pada pihak yang harus menanggung rugi. Inilah alasan utama hilangnya kepercayaan pada system perbankan Eropa.
        Penghematan vs pertumbuhan
Eropa harus bisa memacu pertumbuhan ekonomi saat melakukan penghematan fiscal. Dimana setiap Negara yang dilanda krisis terus menciutkan anggaran belanja dan agaran pendapatan naik, pemerintah harus rela mengorbankan rakyat dengan memungut pajak yang amat menyakitkan.
Masalahnya adalah penghematan berarti menbunuh pertumbuhan ekonomi seluruh Eropa. Meskipun mendapatkan sedekah pajak, pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi lemah, sulit bag pemerintah untuk menekan pijaman mereka, bahan embayar kembali utang yang ada.
        Disiplin vs solidaritas
Pandangan Jerman pada krisis Zona Euro sangat sederhana. Pemerintah Eropa Selatan yang memberikan suku bunga tinggi harus di hukum dan harus belajar disiplin. Jerman menginginkan, Eropa Selatan memasukan aturan-aturan yang ketat dalam memutuskan bresaran anggaran. Hal itu bermanfaat untuk menghentikan kecerobohan di masa depan. Namun, aturan yang disertai denda atau penalty mungkin tidak kredibel. Jerman merusak sendiri pakta stabilitas dengan melindungi mereka atas nama solidaritas euro. Tujuannya adalah menjaga euro menjadi mata uang tunggal yang stabil.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Krisis ekonomi merupakan suatu situasi dimana perekonomian suatu negara mengalami penurunan nilai tukar mata uang harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Ada beberapa kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi di dunia diantaranya krisis ekonomi  Indonesia tahun 1997-1998, krisis ekonomi global tahun 2008 dan krisis ekonomi Eropa tahun 2011. Berbagai kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi tersebut selalu berpengaruh terhadap perubahan perekonomian Indonesia . Hal ini tentunya berdampak negatif terhadap berbagai sektor kehidupan dan imbasnya terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam hal ini pemerintah dan rakyat harus berperan serta dalam mengatasi permasalahan ini dengan bekerjasama untuk lebih berhati-hati dalam membangun perekonomian Indonesia ini.



DAFTAR PUSTAKA


Erlangga, (2002), Perekonomian Indonesia Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Indonesia.
Boediono, (2009), Ekonomi Indonesia, mau dibawa kemana?
laniusm09.blogspot.com
ade-suyitno.blogspot.com
rutac.wordpress.com
arvinradcliffe.blogspot.com
blajareko.blospot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar