PERANAN
DAN PENGARUH EKONOMI MONETER YANG TERJADI DI KAWASAN ASIA TENGGARA DAN EROPA
DI
AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULYAH
“EKONOMI
MONETER”
DI
SUSUN OLEH : MUHAMMAD FIRDAUS IMRAN
LENI
MARLINA
PROGRAM
STUDY : EKONOMI SYARI’AH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL WATHAN SAMAWA
SUMBAWA
BESAR
2016
KATA PENGANTAR
Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena
anugerah dan rahmat-Nya jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam
penyusunan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, yang mana
telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak ternilai dari semua pihak yang
memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu dorongan yang
positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun bahan
materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh
dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian materinya maupun dari segi
bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif senantiasa
penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan makalah ini.
Sumbawa Besar, Oktober 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar .................................................................................. i
Daftar isi ............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................ 1
1.1 Latar belakang masalah ...................................................... 2
1.2 Rumusan masalah ............................................................... 3
1.3 Tujuan ................................................................................ 4
1.4 Manfaat .............................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN ................................................................. 6
2.1 Pengertian Krisis Moneter................................................... 7
2.2 Latar
Belakang Terjadinya Krisis Moneter di Indonesia.... 8
2.3 Krisis Ekonomi Eropa......................................................... 9
2.4
Penyebab Terjadi Krisis Ekonomi Eropa........................... 10
BAB III PENUTUP .......................................................................... 11
3.1 Kesimpulan ........................................................................ 12
3.2 Daftar pustaka .................................................................... 13
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Krisis ekonomi atau yang sering
disebut dengan nama krisis moneter merupakan suatu peristiwa atau kondisi
menurunya ekonomi suatu Negara. Semua Negara praktis pernah mengalami
yang namanya krisis dalam perekonomian negaranya. Karena krisis merupakan
kejadian yang simultan dan memiliki effek yang akan menyebar keberbagai Negara.
Banyak yang menyebutkan bahwa Krisis moneter merupakan hasil dari ekonomi
kapitalis yang sepenuhnya bergantung pada sistem pasar yang ada.
Akibatnya pasar tidak terkendali dan mengakibatkan terjadinya krisis.
Sebagian besar negara-negara di
dunia pernah mengalami krisis ekonomi, bahkan AS juga pernah
mengalaminya. Indonesia pun tidak dapat mengelak dari permasalah
tersebut, dimana Indonesia dilanda oleh suatu krisis ekonomi yang diawali dari
krisis nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada pertengahan tahun 1997.
Kecenderungan melemahnya rupiah semakin menjadi ketika terjadi penembakan
mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998 dan aksi penjarahan pada
tanggal 14 Mei 1998.
Sejak berdirirnya orde baru tahun
1966-1998, terjadi krisis rupiah pada pertengahan tahun 1997 yang
berkembang menjadi suatu krisis ekonomi yang besar. Krisis pada tahun ini
jauh lebih parah dan kompleks dibandingkan dengan krisis-krisis sebelumnya yang
pernah dialami oleh Indonesia. Hal ini terbukti dengan mundurnya Soeharto
sebagai presiden, kerusuhan Mei 1998, hancurnya sektor perbankan dan
indikator-indikator lainnya, baik ekonomi, sosial, maupun politik.
Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab suatu krisis moneter yang
berubah menjadi krisis ekonomi yang besar, yakni terjadinya depresiasi nilai
tukarrupiah terhadap dolar AS lebih dari 200% dan berlangsung dalam jangka
waktu yang panjang.
Oleh karen itu, dalam makalah ini akan diuraikan mengenai
penyebab- penyebab terjadinya krisis ekonomi Indonesia, dampak yang
ditimbulkannya bagi perekonmian domestik, serta kebijakan atau upaya
penanggulangannya.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Definisi Krisis Moneter
2.
Penyebab Krisis Moneter
3.
Krisis Ekonomi Eropa
1.3
Tujuan
2.
Memahami Krisis Moneter.
3.
Mempelajari macam-macam bentuk Krisis Moneter.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Definisi Krisis Moneter
Krisis moneter
adalah krisis yang berhubungan dengan keuangan atau perekonomian suatu negara,
ditandai dengan anjloknya perekonomian suatu negara yang disebabkan oleh
hancurnya sistem pemerintahan.
B. Latar Belakang
Terjadinya Krisis Moneter di Indonesia
Krisis pertama
yang dialami Indonesia pada Orde Baru adalah kondisi ekonomi yang sangat parah .
Selama periode 1962-1966 telah membawa Indonesia dalam kesulitan ekonomi yang
sangat berat. Inflasi mencapai 650%. Korupsi merajalela. Barang pokok
sehari-hari mengalami kelangkaan dimana-mana. Kondisi buruk tersebut diperparah
dengan krisis politik yang akhirnya memuncak pada Tragedi Nasional dengan
korban jiwa banyak orang pada tanggal 30 September 1965.
Melalui usaha
keras disertai bantuan negara-negara donor, Indonesia akhirnya berhasil bangkit
kembali. Indonesia menikmati pertumbuhan
ekonomi yang mengesankan, bahkan disebut sebagai negara Asia berkinerja tinggi
oleh bank dunia. Namun dibalik itu semua, salah satu ciri dari perekonomian
Indonesia adalah “Lebih Besar Pasak Daripada Tiang”. Julukan tersebut
menggambarkan bahwa bangsa Indonesia terlalu boros, sehingga pengeluaran atau
pembelajaan negara lebih besar daripada pendapatan, dan lebih banyak membeli
dari luar negeri daripada menjual barang keluar negri. Hal ini mengakibatkan
ketergantungan dana pada luar negri semakin melambung.
Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi selama ini, yang selalu dijadikan suatu alasan oleh
pemerintah untuk mengatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat kokoh,
membuat banyak perusahaan swasta yang juga meminjam uang keluar negri yang
tidak dilandasi oleh kelayakan ekonomi.
Suku bunga diluar negri yang lebih murah, serta kepercayaan bahwa
pemerintah akan menjaga stabilitas kurs rupiah, menyebabkan utang luar negri
menjadi sumber dana yang menarik, murah, dan tak banyak mengandung resiko kurs.
Ketika perusahaan swasta beramai-ramai mencari pinjaman luar negri, pada saat
yang sama bank-bank luar negri berlomba mencari bisnis di Indonesia. Sebab bagi
mereka, Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta merupakan
lahan bisnis yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Dan bank-bank ini tak
melihat beberapa kelemahan dan resiko yang memang tersembunyikan oleh tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Sehingga
memasuki tahun 1990-an,
pemerintah Orde Baru mulai menampakan kekurangan-kekurangannya yang mendapat
kritik tajam, karena pemerintah yang terlalu sentralis, serta munculnya
korupsi, kolusi
(Kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak
jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan
perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai
pelicin agar segala urusannya menjadi lancar.) dan nepotisme (Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos,
yang berarti "keponakan" atau "cucu". Jadi Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman
akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya atau bisa juga
disebut sebagai pilikasih) secara signifikan. Tetapi, semua kritik
tersebut tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintahan saat itu.
Sementara dalam pembangunan perekonomian di Indonesia, tampak pertumbuhan yang
sangat pesat. Bahkan dalam laporan tahunan tahun 1997, bank dunia masih
meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tingkat rata-rata 7,8 persen.
Pada
pertengahan 1997, kawasan Asia terkena krisis finansial, dipicu dengan
menurunnya mata uang Thailand baht terhadap dollar AS pada 2 Juli 1997, dari
24,7 baht menjadi 29,1 baht per dollar AS.
Krisis penurunan nilai mata uang baht
diikuti negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya, seperti Filiphina,
Malaysia, Indonesia, dan Korea Selatan. Negara-negara ini di perkirakan
memiliki struktur perekonomian tidak jauh berbeda dengan Thailand. Krisis memicu
pelarian modal asing dari negara-negara tersebut, membuat sistem perbankan di
negara-negara tersebut ambruk satu demi satu. Ketika krisis
melanda Thailand, nilai baht terhadap dollar anjlok dan menyebabkan nilai
dollar menguat. Penguatan nilai tukar dollar berimbas ke rupiah.
Di Indonesia, tanda-tanda adanya krisis terjadi pada minggu
kedua Juli 1997, ketika kurs rupiah merosot dari Rp. 2.432 per dollar AS
menjadi sekitar Rp. 3.000 per dollar AS. Sejak saat itu, posisi mata uang
Indonesia mulai tidak stabil. Padahal pada saat itu hutang luar negri
Indonesia, baik swasta maupun pemerintah sudah sangat besar. Tatanan perbankan
nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis. Bank Indonesia berusaha membuat
sejumlah kebijakan dengan melebarkan
rentang kendali rupiah, namun krisis moneter yang diikuti dengan semakin
menipisnya tingkat kepercayaan, membuat nilai rupiah semakin sulit dikontrol.
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak awal Juli
1997, di akhir tahun itu telah berubah menjadi krisis ekonomi. Melemahnya nilai
tukar rupiah terhadap dollar AS, menyebabkan harga-harga naik drastis. Banyak
perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik yang melakukan PHK secara
besar-besaran. Jumlah pengangguran meningkat dan bahan-bahan sembako semakin
langka. Krisis ini tetap terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia
dimasa lalu dipandang cukup kuat dan di sanjung-sanjung oleh bank dunia.
1.
Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umunya berjangka pendek,
telah menciptakan kondisi bagi ketidakstabilan di Indonesia. Hal ini diperburuk oleh rasa
percaya diri yang berlebihan bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri
bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri mengahadapi besarnya
persyaratan hutang swasta tersebut.
Pemerintah
selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola hutang pemerintah (atau
hutang publik lainnya), dan senantiasa menjaganya dalam batas-batas yang dapat
tertangani. Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia,
pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis
berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar-benar menjadi
masalah serius. Antara tahun 1992-1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri
Indonesia berasal dari pinjaman swasta (bank dunia, 1998). Hal ini mirip dengan
yang terjadi di negara-negara lain di Asia yang dilanda krisis.
2.
Banyaknya kelemahan dalam sistem
perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah
hutang swasta eksternal langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam
negeri.
Ketika
liberalisasi sistem perbankan diberlakukan pada pertengahan tahun 1980,
mekanisme pengendalian dan pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak
mampu mengikuti cepatnya pertumbuhan sektor perbankan. Yang lebih parah, hampir
tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan,
khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi
pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran kriteria layak kredit. Pada waktu
yang bersamaan banyak sekali bank yang sesungguhnya tidak bermodal cukup, namun
tetap dibiarkan beroprasi. Semua ini menyebabkan ketika nilai rupiah mulai
terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai peredam
kerusakan, tetapi menjadi korban langsung akibat neraca yang tidak sehat.
3.
Sejalan dengan semakin tidak jelasnya
perubahan politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi
persoalan ekonomi pula.
4.
Hilangnya kepercayaan dunia maupun
masyarakat Indonesia sendiri terhadap perkembangan ekonomi Indonesia, sehingga
menghambat laju gerak pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan Indonesia mengalami
krisis yang berkepanjangan.
Krisis Eropa
juga dapat dikatakan sebagai krisis euro akhirnya terangkat dipermukaan sebagai
isu yang panas, settelah stimulus krisis Yunani berhasil menarik banyak
perhatian dunia internasional. Bagaimana tidak, jika ternyata rentetan negara
tak mau ketinggalan mencuat dengan kabar adanya krisis yang terlihat dari
bagaimana mereka mencari dana pinjaman baik dari negara lain , seperti Italia
dan Spanyol, ditambah indikasi krisis yang diperkirakan dialami oleh Portugis,
dan Irlandia. Setelah Yunani, Italia tergolong negara yang krisisnya begitu
disorot dunia internasional, terlebih dengan adanya “skandal” kegagalan
Berlusconi yang menyebabkan keterpurukan ekonomi namun sempat teguh menolak
untuk mengundurkan diri. Kegagalan mengentaskan Yunani dari krisis akan
menyeret negara Uni Eropa lain ke dalam krisis yang makin dalam, yang ternyata
tidak hanya disebabkan oleh persamaan mata uang. Uni Eropa, yang konon kini
menyisakan tiga negara kuat; yaitu Belanda, Perancis, dan Jerman telah berupaya
memberikan dana talangan, baik teratasnamakan negara dan juga teratasnamakan
komisi Uni Eropa. Menurut penulis, hal ini menggambarkan kesadaran para negara
anggota zona Euro, bahwa perluasan krisis akan sangat mungkin berlanjut dan
akan sangat merugikan.
Pada dasarnya,
sistem mata uang tunggal seakan menjadi pisau bermata dua, dalam artian di satu
sisi begitu menguntungkan dan menambah bagaining position negara Eropa, namun
di saat yang bersamaan penulis menilai ke-tunggal-an mata uang ini penuh dengan
celah yang berpotensi merugikan. Salah satunya perihal tingkat adaptasi negara,
tidak semua negara memiliki perekonomian yang cukup matang untuk zona
euro. Misalnya saja Yunani, sejak masuk
Uni Eropa di tahun 1980, dan masuk pula di zona euro, dalam satu dekade pertama
harapan penguatan ekonomi sama sekali tidak tercapai, yang terjadi justru
penurunan tingkat Gross National Product (GNP) Yunani dari 58% menjadi 52%.
Adanya sistem
mata uang tunggal membuat negara-negara lain di Uni Eropa menjadi rentan akan
satu goncangan di satu pilar euro yang ada. Dampak signifikan secara langsung
akan dirasakan oleh negara-negara anggota-anggota eurozone. Harus dipahami
disini bahwa definisi zona eropa adalah kesepakatan beberapa negara, bahkan
yang diluar Uni Eropa yang sama-sama menggunakan mata uang euro, dan juga
adapula negara Uni Eropa yang ternyata tidak bergabung dalam zona euro, seperti
United Kingdom dan Denmark. Penggunaan term
“negara dalam zona euro” kini dapat disepakati mengarah pada
negara-negara pengguna euro. Adanya eurozoneyang
awalnya sangat menguntungkan kini menjadi momok paling mengerikan sebab hal ini
justru membuat upaya mempertahankan krisis di wilayah internal negara menjadi
upaya yang sia-sia bahkan nyaris mustahil.
Melihat secara umum bentuk persoalan
krisis yang di hadapi Eropa tersebut, dapat dikelompokan menjadi 4 dilema besar
yang mengakibatkan kondisi perekonomian Eropa menjadi carut-marut:
Debitur
vs kreditor
Eropa dihadapkan dengan
menggemuknya utang pemerintahdan swasta yang banyak diantaranya yang tidak
membayar dan menjadi ancaman ketika bertabrakan pada persoalan seberapa besar
utang yang akan di write off dan siapa yang akan bertanggung jawab atas itu.
Serta jika kredit macet di hapus, artinya pada pihak yang harus menanggung
rugi. Inilah alasan utama hilangnya kepercayaan pada system perbankan Eropa.
Penghematan
vs pertumbuhan
Eropa
harus bisa memacu pertumbuhan ekonomi saat melakukan penghematan fiscal. Dimana
setiap Negara yang dilanda krisis terus menciutkan anggaran belanja dan agaran
pendapatan naik, pemerintah harus rela mengorbankan rakyat dengan memungut
pajak yang amat menyakitkan.
Masalahnya
adalah penghematan berarti menbunuh pertumbuhan ekonomi seluruh Eropa. Meskipun
mendapatkan sedekah pajak, pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi lemah, sulit
bag pemerintah untuk menekan pijaman mereka, bahan embayar kembali utang yang
ada.
Disiplin
vs solidaritas
Pandangan Jerman pada krisis Zona
Euro sangat sederhana. Pemerintah Eropa Selatan yang memberikan suku bunga
tinggi harus di hukum dan harus belajar disiplin. Jerman menginginkan, Eropa
Selatan memasukan aturan-aturan yang ketat dalam memutuskan bresaran anggaran.
Hal itu bermanfaat untuk menghentikan kecerobohan di masa depan. Namun, aturan
yang disertai denda atau penalty mungkin tidak kredibel. Jerman merusak sendiri
pakta stabilitas dengan melindungi mereka atas nama solidaritas euro. Tujuannya
adalah menjaga euro menjadi mata uang tunggal yang stabil.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Krisis ekonomi merupakan suatu situasi dimana
perekonomian suatu negara mengalami penurunan nilai tukar mata uang harga
kebutuhan pokok yang semakin tinggi.
Ada
beberapa kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi di dunia diantaranya krisis ekonomi Indonesia tahun 1997-1998, krisis ekonomi global tahun 2008 dan krisis ekonomi Eropa tahun 2011. Berbagai kasus krisis
ekonomi yang pernah terjadi tersebut selalu berpengaruh terhadap perubahan
perekonomian Indonesia . Hal ini tentunya berdampak negatif terhadap berbagai
sektor kehidupan dan imbasnya terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Dalam hal ini pemerintah dan rakyat harus berperan serta dalam mengatasi
permasalahan ini dengan bekerjasama untuk lebih berhati-hati dalam membangun
perekonomian Indonesia ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Erlangga, (2002), Perekonomian Indonesia Tantangan dan Harapan
Bagi Kebangkitan Indonesia.
Boediono, (2009), Ekonomi Indonesia, mau dibawa kemana?
laniusm09.blogspot.com
ade-suyitno.blogspot.com
rutac.wordpress.com
arvinradcliffe.blogspot.com
blajareko.blospot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar